Penyerahan Ermita [Cerita seks]

Sinopsis: Tokoh utama cerita adalah Robby (Aku), tammatan MIT yang direkrut perusahaan internasional yang bermarkasbesar di New York. Tujuh tahun bekerja, Robby dikirim perusahaannya untuk membuka kantor cabang di Jakarta untuk penugasan setahun. Di Jakarta Robby terjerat api asmara yang membakar dengan gadis pelajar SMU anak keluarga warga perkampungan kumuh wilayah pinggiran Jakarta bernama Ermita. Walau dari keluarga miskin, Ermita ternyata memiliki kepribadian yang lain dari yang lain yang membuat Robby luluh. Ini adalah kisah percintaan yang indah dengan adegan detail persetubuhan dahsyat saat Robby mengambil keperawanan Ermita sampai ke detik-detik kepala penis Robby merobek selaput dara gadis kampung Jakarta namun sangat cantik dan berbodi aduhai itu. Selamat menikmati. Sato Sakaki).

PENYERAHAN ERMITA
Oleh: Sato Sakaki

Aku yakin belum banyak yang diperbuat Andi pada dirinya sewaktu aku membuka pintu depan dan melihat mereka di ruang tamu. Disamping pemuda itu dia tersandar di sudut sofa dengan wajah merah saga, rambut awut-awutan dan blus sekolah yang acak-acakan, kerut-merut di bagian dada.

?Kok cepat pulangnya Om?? Andi tidak kelihatan kikuk sama sekali.
?Ah biasa?, jawabku, ?sudah lama??, kupandang gadis itu sekilas yang hanya menundukkan wajah tak berani memandangku. Menilik penampilan dengan seragam yang kelihatan setengah lusuh dan tas sekolah butut yang tergeletak tak jauh di depannya bisa ditebak dia warga kampung pinggiran. Entah darimana dia disambar keponakanku. Biasanya pemuda playboy itu membawa pacar cewek gedongan sesama mahasiswa kampus.
?Andi, di kulkas barangkali ada coca-cola?.
?Terimakasih Om, nanti kami ambil?.

Aku terus masuk ke dalam membuka kunci kamarku, ganti pakaian. Rasanya lega bebas dari dasi dan business suit di udara gerah Jakarta. Lalu seperti biasa sepulang kantor aku ke dapur memasukkan empat mangkok beras ke rice cooker. Aku memang hanya tinggal sendirian di rumah kontrakan tiga kamar yang cukup besar ini. Ibu Andi kakak-iparku menawarkan pembantu tetapi kutolak. Di apartemenku di New York-pun aku biasa mengurus keperluanku sendiri. Pernah Andi kuajak tinggal bersamaku, tetapi karena terlalu jauh dari kampusnya dia tidak betah dan memilih tinggal di sekitar kampus saja, hanya sekali-sekali dia datang membawa pacarnya pada saat dia kira aku tidak di rumah. Dia punya duplikat kunci untuk itu.

Tapi sebenarnya walau sedang di rumahpun aku tak begitu peduli pada apa yang diperbuat Andi dengan pacarnya di ruang tamu. Karena aku juga bukan orang suci. Terkadang aku juga membawa teman wanita yang terkadang kuperam beberapa hari di kamarku kalau dia mau. Walaupun aku tentu saja hati-hati jangan sampai nanti terpaksa mengawini mereka. Maksudku terjebak oleh salah seorang dari mereka.

Dari dapur aku terus ke kamar di sebelah kamar tidurku yang kujadikan ruang kerja, menekuni hingar-bingar lalulintas internet dan tenggelam dalam keasyikan sampai Andi muncul mengejutkanku.
?Om saya mau beli nasi bungkus, apa om mau pesan??
?Tidak, om tadi masak nasi, terimakasih?.
?Saya tinggal Mita sebentar Om?. Aku menatap wajah Andi. Kuberi dia isyarat supaya mendekat. ?Hati-hati kau Andi. Kalau dia hamil dia tuntut kau bertanggungjawab. Apa kau sudah siap jadi suami??
?Ah saya tidak sejauh itu, Om?, Andi menyeringai.
?Ya, hati-hati saja?, kataku pelan.
Dan Andi keluar. Sebentar kemudian terdengar sepeda motornya meninggalkan gerbang halaman rumahku.

Aku masih mengutak-atik komputer sekitar limabelas menit ketika kudengar suara halus dari pintu kamar. ?Om, apakah saya boleh memakai kamar kecil?? Aku menoleh ke arah datangnya suara merdu itu. Amboi mulut yang sempurna dengan bibir penuh dan sensual. ?Oh ya ada di belakang. Atau pakai saja kamar mandi di kamar Om?. Aku bangkit dari duduk dan melangkah melewatinya untuk menunjukkan kamar mandi dalam kamarku. Dia masuk dan aku memperhatikan bentuk tubuhnya. Bodi yang cukup memenuhi estetika keindahan. Walau ada kesan perkampungan kumuh, harus kuakui dia lumayan cantik.

Aku menunggu di pintu kamar sewaktu dia keluar kamar mandi tak selang lama. Masih berjalan menunduk dia mengucapkan terimakasih.
?Siapa namamu??
?Mita Om, Ermita?.
?Dimana kamu sekolah?? Dia menyebut sebuah SMU swasta sembari mengangkat mukanya melihat ke wajahku. Sekilas kami bertatapan, kulihat matanya begitu letih dan mukanya pucat. ?Kamu dari sekolah langsung kemari??
?Iya Om.?
?Belum pulang ke rumah??
?Belum Om?.
?Kemari dulu?. Aku cepat melangkah ke dapur memeriksa lemari es. Di sudut aku melihat kaleng cocacola terakhir. Aku sudah harus ke Carrefour lagi. Beberapa persediaan sudah tipis.
?Ini Ermita, cocacola!?. Dia tersenyum gembira, ?Makasih Om?. Segera saja dia tarik kaitan tutup kaleng aluminum itu dan mereguk isinya. Kentara soda dingin itu sangat dia nikmati. Barangkali di kamarmandi dia tadi minum air ledeng tapi belum dapat melepaskan rasa hausnya yang teramat sangat.

Aku memeriksa freezer dan mataku tertumbuk pada bungkus aluminium potongan kelebihan pesta pizza pesanan yang sudah sekitar tiga minggu di sana. Kubuka, ada dua potong, keduanya kuletakkan ke piring dan kumasukkan ke microwave. Lima menit pizza yang sudah panas dan segar lagi kukeluarkan dan kusodorkan padanya. ?Ini pizza makanan orang Italia, barangkali kamu sudah tahu. Roti dengan keju, pakai daging kambing, cendawan dan potongan-potongan ? apa ya indonesianya green pepper??
?Saya juga tidak tahu Om.? katanya menerima piring yang kusodorkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s